Sebuah analogi menurut pemikiran saya. Di dalam persidangan terdapat sebuah neraca gaib yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang sakti. Di awal persidangan neraca itu seimbang di dua sisi dengan tergugat dan penggugat ditimbang di atasnya. Seiring berjalanannya persidangan muncul fakta-fakta, bukti-bukti, dan pendapat-pendapat ahli yang disampaikan dalam pengadilan akan diletakkan masing-masing di sisi penggugat ataupun tergugat. Tidak ada satupun yang tahu apakah harus diletakkan ke penggugat atau tergugat.

Neraca Gaib

Namun di sekumpulan orang-orang sakti itu terdapat beberapa orang dengan pakaian yang berbeda dari lainnya. Mereka adalah yang paling sakti dan hanya mereka yang terpercaya dan mampu menghitung untuk menentukan dimana harus meletakkan fakta, bukti, dan pendapat ahli tadi. Apakah diletakkan di sisi tergugat atau di sisi penggugat. Sampai di akhir persidangan para orang-orang sakti tadi akan melihat keadaan terkini neraca.

Dengan melihat keadaan neraca barulah orang-orang yang paling sakti tadi melihat siapa yang di bawah dan siapa yang di atas. Ketika salah satu pihak berada di bawah, maka pihak yang di atas harus diberikan beban agar mereka kembali seimbang.

Itulah orang-orang sakti yang memiliki ilmu cukup di bidang hukum. Mereka mampu melihat neraca keadilan yang kita sebagai manusia biasa tidak mampu melihat neraca tadi. Itu dia neraca gaib, hanya Tuhan dan mereka yang orang-orang sakti yang mampu melihat. Tidak menutup kemungkinan orang-orang sakti ini berbohong tentang apa yang mereka lihat di neraca keadilan. Tapi, apakah Tuhan akan diam sedangkan Tuhan tahu kondisi sebenarnya neraca tersebut?

Jika kita ragu tentang hasil persidangan dan mempertanyakan keadilan, mampukah kita melihat neraca keadilan itu? Kita mungkin mampu melihat fakta dan bukti-bukti sepanjang proses peradilan. Namun kembali lagi apakah mampu kita sebagai orang-orang biasa untuk melihat neraca keadilan?

“Orang baik sekarang dihukum sedangkan orang jahat berkeliaran.” Apa dasar kita untuk melihat siapakah yang baik dan siapakah yang jahat? Lagipula seorang pejabat terhormat yang korupsi akan dilihat sebagai koruptor di pengadilan. Seorang tua renta yang membunuh akan dilihat sebagai pembunuh di pengadilan. Karena yang diadili di pengadilan merupakan apa yang diperkarakan, bukan tentang apa-apa yang dilakukannya di luar perkara. Tapi tentu ada pertimbangan khusus dari mereka yang mulia untuk mengadili seorang yang bersalah. Mereka yang lebih paham tentang asas hukum dan keadilan.

Putusan pengadilan itu untuk menempatkan keadilan di kedua pihak yang berperkara yaitu penggugat dan tergugat. Bagaimana kita merasa tidak adil dengan sebuah putusan pengadilan sedangkan bukan kita yang sedang diadili? Jika kasusnya pencurian maka yang sedang diadili adalah yang kecurian dan si pencuri. Jika kasusnya pembunuhan maka yang sedang diadili adalah keluarga yang kehilangan dan si pembunuh itu. Jika kasusnya penistaan agama maka yang sedang diadili adalah yang menistakan dan penganut agama tersebut.

Ya tulisan ini juga tidak tentang benar atau salah, adil atau tidak. Sesuai dengan kategori tulisan ini, ini hanya opini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s